Deklarasi Ekonomi Soekarno (28 Maret, 1963)

Saudara-saudara sekalian,

1. Sebagai Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia saya menyadari sedalam-dalamnya, seperti juga telah saya utarakan dengan kata-kata yang jelas dalam pidato 17 Agustus 1962, tekad bangsa Indonesia untuk menganggulangi secara keseluruhan dengan kekuatan sebulat-bulatnya persoalan ekonomi nasional kita.

2. Di samping itu, sebagai Pemimpin Besar Revolusi, untuk keselamatan pertumbuhan Revolusi secara keseluruhan, saya tidak dapat melepaskan diri dari pada hukum-hukum dan dialektika Revolusi kita.

Hukum-hukum dan dialektika Revolusi kita menentukan prioritas-prioritas yang mutlak perlu bagi Revolusi kerakyatan dalam abad ke-20.

3. Perlu disadari dan dipahami bahwa strategi dasar ekonomi Indonesia tidak dapat dipisahkan dari strategi umum Revolusi Indonesia.

Manifesto Politik serta pedoman-pedoman pelaksanaannya telah menetapkan strategi dasar (basic strategy) ekonomi Indonesia, yang menjadi bagian mutlak dari pada strategi umum Revolusi Indonesia.

Menurut strategi dasar ekonomi Indonesia, maka dalam tahap pertama kita harus menciptakan susunan ekonomi yang bersifat nasional dan demokratis, yang bersih dari sisa-sisa imperialisme dan bersih dari sisa-sisa feodalisme. Tahap pertama adalah persiapan untuk tahap kedua, yaitu tahap ekonomi Sosialis Indonesia, ekonomi tanpa penghisapan manusia oleh manusia, tanpa “exploitation de l’homme par l’homme”. Dalam masyarakat Sosialis Indonesia tiap-tiap orang dijamin akan pekerjaan, sandang-pangan, perumahan serta kehidupan kultural dan spiritual yang layak. Susunan ekonomi yang demikian inilah yang harus menjadi tujuan segenap kegiatan ekonomi kita, yang harus menjadi tujuan tiap-tiap putera Indonesia.

4. Kita sekarang sedang berada dalam tahap pertama Revolusi kita. Kewajiban kita di bidang ekonomi dalam tahap ini ialah mengikis habis sisa-sisa imperialisme dan sisa-sisa feodalisme di bidang ekonomi, menggerakkan semua potensi nasional untuk meletakkan dasar dan mempertumbuhkan suatu ekonomi nasional yang bebas dari imperialisme dan feodalisme sebagai landasan menuju ke masyarakat Sosialis Indonesia.

5. Dalam perjuangan untuk menyelesaikan tahap nasional dan demokratis ini, maka sudah tibalah waktunya untuk mengerahkan segenap potensi, baik potensi Pemerintah maupun potensi koperasi dan swasta (nasional dan domestik) dalam kegiatan ekonomi dan pembangunan untuk meningkatkan produksi dan menambah penghasilan Negara.

6. Karena itu yang harus diselenggarakan sekarang ialah memperbesar produksi berdasarkan kekayaan alam yang berlimpah-limpah dan meletakkan dasar-dasar untuk industrialisasi. Dalam tingkatan sekarang ini harus disadari bahwa modal terpenting bagi pembangunan nasional ialah menggali dan mengolah kekayaan alam kita itu.

Ini berarti bahwa kita harus mengutamakan pertanian dan perkebunan, kita harus mementingkan pertambangan, yang tentunya hanya dapat memberikan hasil sebesar-besarnya jika dikerjakan atas dasar kegotongroyongan antara massa rakyat dan Pemerintah, sebagai syarat untuk menimbulkan dan menyalurkan daya kerja dan daya kreatif rakyat secara maksimal.

7. Untuk mencapai kegotongroyongan itu saya peringatkan bahwa di masa lampau potensi dan kekuatan rakyat merupakan tulang punggung dari alat perjuangan dan alat Revolusi Indonesia. Hal ini terbukti umpamanya:

a) Dalam melaksanakan Revolusi fisik, menghadapi kekuatan dan kekuasaan Belanda, kita menang karena melandaskan perjuangan kita pada potensi dan kekuatan rakyat;

b) Dalam menghadapi pemberontakan dan subversi-asing yang secara simultan berlangsung dengan politik konfrontasi terhadap Belanda, kita menang juga karena melandaskan perjuangan kita pada potensi dan kekuatan rakyat;

c) Dalam menemukan kembali Revolusi kita yang dapat melahirkan Manilpol/Usdek sebagai ideologi nasional progresif, kita juga memakai sumber potensi dan kekuatan rakyat sebagai landasan;

d) Tri-Komando Rakyat, sebagai tingkat terakhir dalam perjuangan merebut Irian Barat, berhasil dengan gemilang juga karena kita melandaskan perjuangan kita pada potensi dan kekuatan rakyat.

8. Perjuangan-perjurangan tadi menghasilkan kelengkapan dari alat-alat Revolusi Indonesia yang berupa:

a) Kemerdekaan seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke,

b) Ideologi nasional progresif Manipol/Usdek,

c) Satu pimpinan Revolusi, Re-So-Pim,

d) Keamanan dan

e) Kekuatan Angkatan Bersenjata yang kokoh, bersatu, dan bermutu tinggi.

Alat-alat ini merupakan syarat mutlak bagi kelanjutan Revolusi Indonesia, untuk menjaga kesatuan Indonesia dari ancaman, baik dari dalam mau pun dari luar dan bagi segala pembangunan ekonomi selanjutnya.

9. Dalam melaksanakan Revolusi di bidang sosial dan ekonomi selanjutnya, maka – sesuai dengan hukup Revolusi – kita harus mempergunakan sepenuhnya semua alat Revolusi yang sudah kita miliki itu, dengan selalu melandaskan perjuangan kita pada potensi dan kekuatan rakyat.

10. Dalam menghadapi masalah ekonomi, kita sadar bahwa sisa-sisa kolonial dan sisa feodal dan demikian pula sifat-sifat hubungan ekonomi dan perdagangan dengan dunia luar masih juga memberikan rintangan dalam pertumbuhan ke arah Sosialisme Indonesia. Khususnya blok-blok ekonomi negara, dan dengan demikian memperkuat dominasi ekonomi dari “the oleh established forces”. Berhubung dengan itu maka Pemerintah berusaha untuk menghilangkan kelancaran perdagangan internasional, akan tetapi yang di samping itu terlebih-lebih menekan perkembangan pembangunan ekonomi di negara-negara yang baru saja memasuki alam kemerdekaan.

11. Dalam melanjutkan pertumbuhan-pertumbuhan di bidang sosial dan ekonomi, maka kita harus bertitik-pangkal pada modal yang sudah kita miliki ialah:

a) Aktivitas ekonomi Indonesia dewasa ini kurang lebih 80% sudah berada di tangan Bangsa Indonesia. Dalam tahun 1950 boleh dikatakan aktivitas ekonomi di Indonesia sebagian terbesar masih dikuasai oleh bangsa asing sehingga, baik Pemerintah mau pun rakyat, tidak dapat mengadakan perencanaan secara pokok bagi pertumbuhan ekonomi secara revolusioner.

b) Pada waktu-waktu belakangan ini Pemerintah sudah mulai dapat secara aktif menyusun aktivitas ekonominya dalam arti konsepsional, organisatoris, dan struktural.

c) Meskipun demikian kita belum dapat berkembang secara mendalam, oleh karena perhatian Pemerintah dan kekuatan rakyat masih dititikberatkan kepada penyusunan alat-alat Revolusi, yang baru pada waktu sekarang ini dapat dikatakan lengkap.

Oleh karena itu, boleh dikatakan bahwa baru sekarang kita dapat menggerakkan segala usaha dan perhatian rakyat dan Pemerintah untuk menanggulangi persoalan ekonomi secara konsepsional, organisatoris, dan struktural dalam arti keseluruhannya.

Usaha-usaha Pemerintahh dan rakyat yang sudah ditempuh secara konsepsional, organisatoris, dan struktural ialah misalnya:

Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana Tahapan Pertama yang sudah disyahkan oleh MPRS,
Undang-Undang Pokok Agraria dan Undang-Undang Perjanjian Bagi-Hasil,
Peranan Pemerintah dalam industrialisasi dan perdaganganinternasional, dan
Penyusunan PN, PDN, BPU, Dewan Perusahaan, OPS. Koperasi, dan sebagainya.

12. Semua ini merupakan modal bagi kita untuk menanggulangi persoalan ekonomi secara integral. Dengan modal itu maka baru sekaranglah kita dapat menggerakkan segala potensi dan kekuatan rakyat.

Di samping itu perlu diperhatikan sedalam-dalamnya, bahwa kita harus menarik pelajaran dari pengalaman-pengalaman di masa yang lampau, khususnya pengalaman-pengalaman yang tidak memberikan hasil seperti yang dicita-citakan. Selanjutnya perlu diperhatikan pengalaman-pengalaman dari negara-negara dan bangsa-bangsa lain, yang juga menempuh jalan pertumbuhan ke arah sosialisme secara revolusioner.

13. Di samping modal positif ini, sebagai akibat dari perjuangan untuk menanam secara teguh alat-alat Revolusi, kita sekarang menghadapi persoalan-persoalan sosial ekonomi yang agak mendesak seperti inflasi, kekurangan devisa yang mengakibatkan pembatasan impor bahan-bahan baku sehingga kegiatan alat-alat produksi menurun. Keadaan yang mendesak ini tidak dapat diatasi sebagai masalah yang berdiri sendiri, lebih-lebih tidak mungkin kita atasi hanya dengan tindakan moneter konvensional belaka. Sebaliknya, tidak ada jalan mudah yang dapat mengangkat kita dari impasse sekarang ini, kecuali atas dasar menggerakkan segenap potensi dan kekuatan rakyat sesuai dengan konsepsi integral menanggulangi persoalan ekonomi nasional kita.

14. Ini berarti bahwa segala perhatian, segala usaha, dan segala aktivitas untuk memecahkan persoalan ekonomi sekarang ini harus berlandaskan pada kelengkapan konsepsi, organisasi, dan struktur secara integral, dalam rangka kewajiban kita menumbuhkan Revolusi yang perspektifnya tidak ada lain ialah Sosialisme Indonesia.

15. Potensi rakyat yang telah saya sebutkan beberapa kali dan yang selalu tumbuh dan meningkat itu antara lain berupa:

a) Kesadaran sosial yang sangat mendalam,

b) Kesadaran akan pentingnya dilaksanakan prinsip-prinsip ekonomi,

c) Penambahan ketrampilan dan keahlian,

d) Kerajinan dan cinta-kerja rakyat serta

e) Semangat patriotisme.

16. Pada hakekatnya dasar ekonomi terpimpin ialah menyalurkan dan memperkokoh potensi rakyat tersebut agar supaya dapat berkembang sepenuhnya, berdasarkan perencanaan dan pelaksanaan secara teratur dan perhitungan (kalkulasi) yang seksama. Segala tindakan, baik dari pihak-pihak Eksekutif dan Legislatif mau pun dari pihak alat-alat Negara, harus ditujukan kepada perkembangan potensi rakyat sesuai dengan sifat ekonomi terpimpin menuju ke Sosialisme Indonesia.

17. Berhubung dengan keadaan dan titik dari perjuangan kita maka di masa yang lampau sebagian besar dari bimbingan ekonomi terdesak oleh ketentuan-ketentuan yang berhubungan dengan pemulihan keamanan dan pembebasan Irian Barat. Pada waktu itu diberikan prioritas setinggi-tingginya kepada tindakan-tindakan untuk menghadapi bahaya-bahaya terhadap kesatuan Negara dan bahaya-bahaya terhadap keamanan politis dan fisik bangsa kita.

18. Dalam menilai aktivitas ekonomi nasional kita yang meliputi aktivitas Pemerintah, aktivitas koperasi, dan aktivitas swasta, perlu disadari bahwa peranan rakyat pada waktu ini, rakyat sebagai tani, rakyat sebagai buruh, pendeknya rakyat sebagai produsen, yang merupakan potensi dan kekuatan real dan material. Dalam garis besarnya antara lain dapat diambil contoh, bahwa 60% dari penghasilan karet ialah karet rakyat, kopra dan produksi padi 100% dihasilkan oleh rakyat, 60% dari transportasi bermotor bersifat swasta. Selanjutnya perlu diketahui bahwa pengangkutan inter-insuler untuk 50% dilaksanakan dengan perahu-perahu dan kapal-kapal rakyat sederhana.

Di samping itu, adalah kenyataan pula bahwa di lapangan perdagangan kecil dan menengah, rakyat menjalankan peranan besar, baik berupa swasta modern mau pun berupa usaha rakyat sederhana. Pun perlu diterangkan bahwa koperasi juga sudah mulai bergerak di lapangan produksi.

Di lapangan industri, impor dan ekspor, kita mengenal pengusaha-pengusaha yang kita sebut golongan swasta.

19. Semua aktivitas ini membangkitkan di kalangan rakyat secara keseluruhan tuntutan-tuntutan yang makin meningkat (rising demands) dalam arti konsumtif dan produktif, serta memperkokoh kesadaran sosial dan memperdalam pengertian rakyat tentang persoalan-persoalan ekonomi. Ini berarti bahwa tiap “eploitation de l’homme par l’homme” oleh siapa pun, apalagi jika dilakukan oleh alat-alat Negara, akan dicerminkan sebagai sifat pasif atau acuk tak acuh, dan dengan demikian mengurangi aktivitas ekonomi secara nasional.

20. Teranglah, Saudara-saudara, bahwa jalan ke arah Sosialisme Indonesia harus ditempuh secara gotong-royong antara Pemerintah dan rakyat. Khususnya dalam keadaan sekarang soal pembangunan di Indonesia tidak berlangsung hanya melalui modal Pemerintah akan tetapi juga modal yang dikumpulkan oleh rakyat, baik modal material mau pun modal pengalaman, dan lebih-lebih modal dalam arti semangat dan patriotisme merupakan syarat mutlak bagi kemajuan kita semuanya. Pertumbuhan selanjutnya ke arah Sosialisme Indonesia akan dilaksanakan oleh bangsa Indonesia secara kreatif, disesuaikan dengan ciri-ciri kepribadian nasional dari bangsa Indonesia sendiri.

21. Dalam melaksanakan kegotongroyongan ini yang meliputi semua “funds and forces”, Pemerintah memegang pimpinan ke arat tujuan Sosialisme Indonesia. Pimpinan di masa yang lampau, oleh karena sangat dipengaruhi oleh peraturan dan kegiatan administratif (bureaucratisme) dan peraturan serta kegiatan di lapangan pemulihan keamanan dan pembebasan Iriat Barat, menekankan dan menghambat potensi dan daya kreatif rakyat untuk berkembang.

22. Dalam keadaan sekarang, maka sifat tegas dari pimpinan pemerintahan seharusnya adalah sebagai berikut:

a. Memiliki perencanaan pembangunan nasional dan memimpin pelaksanaannya;

b. Memperkembangkan segala aktivitas dan daya kreatif rakyat;

c. Memberikan pelayanan sepenuhnya kepada keperluan-keperluan pertumbuhan ekonomi dan lalu-lintas barang;

d. Memberikan perhatian sepenuhnya kepada landasan-landasan ekonomi, agar supaya dengan demikian menguasai pengemudian hukum-hukum ekonomi, sehingga dapat dihindari kerugian-kerugian nasional seperti kita alami waktu yang lampau.

23. Dalam hubungan ini diterangkan bahwa perhatian akan hukum ekonomi secara umum dan pelayanan kepada keperluan pertumbuhan ekonomi dan lalu lintas barang antara lain dicerminkan:

a) Dalam penanaman modal dan penentuan nilai dari pertumbuhan ekonomi (rate of economic growth);

b) Dalam hubungan ekonomi dengan dunia luar untuk memperkuat politik bebas dan aktif serta terus-menerus memperjuangkan keseimbangan antara harga-harga bahan mentas dan harga-harga bahan terolah;

c) Dalam penentuan oleh Pemerintah mengenai sifat manajemen, pengawasan, dan perangsang (incentive);

d) Dalam penentuan aktivitas ekonomi yang secara mutlak harus dipegang oleh Pemerintah;

e) Dalam menentukan bahagian dari aktivitas ekonomi yang diberikan oleh Pemerintah kepada pihak swasta, yang dilaksanakan sebagai bagi-hasi atau “production sharing” antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Koperasi atau Swasta di pihak Indonesia dengan Pemerintah atau Swasta di pihak asing, perlu ditegaskan bahwa production sharing pada hakekatnya merupakan kredit dari luar negeri untuk melaksanakan sesuatu proyek, yang akan dibayar dengan sebagian dari hasil yang diperoleh proyek tersebut; milik dan pimpinan harus tetap di tangan pihak Indonesia.

24. Mengingat luasnya Indonesia secara geografis, dan untuk memenuhi tujuan kita untuk menggali potensi rakyat di semua daerah Indonesia, lagi pula mengingat bahwa perhubungan pada waktu ini, baik di dalam satu pulau mau pun perhubungan antara pulau, masih sangat sederhana, serta mengingat pengalaman-pengalaman negara-negara lain yang menempuh jalan ke arah sosialisme, maka dirasakan bahwa konsentrasi pimpinan (management) dalam suatu pusat di Jakarta tidak akan memberikan hasil yang dicita-citakan. Ini berarti bahwa kita harus mengadakan dekonsentrasi dalam soal manajemen dengan tidak mengorbankan Indonesia sebagai suatu kesatuan ekonomi dan politik. Misalnya: sesuatu cabang dari sesuatu bank Negara harus dapat memberi keputusan mengenai sesuatu hal, yang hanya mengenal daerah atau wilayah cabang itu sendiri tanpa minta persetujuan dulu dari pusat bank itu di Jakarta.

Ini tidak berarti mengorbankan sentralisasi dalam perencanaan (planning) dan pengawasan (control) terakhir yang ada di tangan pihak pusat. Hal-hal ini dengan sendirinya tidak mengurangi usaha-usaha yang dilakukan oleh Daerah-daerah Otonom.

Dekonsentrasi dalam manajemen tidak dimasukkan dalam otonomi lokal, sebagaimana halnya dengan beberapa urusan Pemerintah Pusat yang telah diserahkan kepada daerah-daerah otonomi.

Sesuai dengan prinsip-prinsip ekonomi, maka selanjutnya perlu diberikan kekuasaan selayaknya kepada manajemen untuk berpikir dan bertindak secara efisien dan efektif.

25. Untuk mendapat dukungan masyarakat atau “social support”, maka perlu golongan karyawan dalam arti rakyat pekerja diikutsertakan dalam kebijaksanaan dan pengawasan. Ini akan menghilangkan kontrakdiksi antara pimpinan di atas dengan para pekerja. Dan selanjutnya tiap perusahaan harus dapat dirasakan oleh masyarakat sekelilingnya sebagai suatu usaha kegotongroyongan dalam memperbaiki taraf kehidupannya. Akhirnya, pertumbuhan perekonomian daerah secara mutlak merupakan bagian dari suatu perekonomian nasional yang tak dapat terpisah-pisah, sehingga pengawasan terakhir secara keseluruhan tetap di tangan Pemerintah Pusat.

26. Sesuai dengan pertumbuhan kesadaran sosial dan kesadaran ekonomi rakyat Indonesia, maka tiap konsepsi dan tindakan Pemerintah harus dapat dirasakan dan dimengerti oleh rakyat, bahwa kepentingan mereka diperhatikan.

Ini berarti bahwa tindaka Pemerintah harus dapat sambutan baik dari rakyat, baik dalam arti menambah keperluan material atau membangkitkan perasaan patriotisme dan pengorbagan seperlunya. Selain perangsang atau “incentive” secara umum ini perlu juga diperhatikan sepenuhnya perangsang secara khusus dalam bentuk pelayanan yang sebaik-baiknya bagi produsen dan pengusaha.

Berhubung dengan itu maka Pemerintah harus mengeluarkan peraturan-peraturan atau melaksanakan pengawasan bagi pertumbuhan ke arah itu.

Dalam hal ini perlu diperhatikan bahwa segala tindakan tadi tidak menghambat atau memacetkan kelancaran dalam produksi dan lalu lintas barang; peraturan-peraturan yang dibuat dalam hal ini harus luwes (fleksibel), tidak boleh kaku. Selanjutnya perlu diperhatikan bahwa perangsang tidak hanya perlu dipikirkan bagi perseorangan atau golongan, akan tetapi juga sebagai ganjaran secara khusus oleh Pemerintah untuk kegiatan ekonomi daerah.

Dengan demikian, maka akan dirasakan oleh daerah bahwa kegiatan untuk menambah penghasilan Negara juga mengakibatkan perkembangan yang baik dalam arti sosial-ekonomis bagi kehidupan masyarakat di daerah itu.

27. Berhubung dengan pertumbuhan ekonomi nasional kita, maka terasa keperluan untuk merubah sistem perpajakan. Pada umumnya, sistem pajak sekarang ini masih melanjutkan sistem pajak yang lama, yaitu menjadikan pajak-pajak sebagai sumber penghasilan Negara yang utama. Karena itu, perlu diadakan perubahan dalam sistem perpajakan:

a) Untuk memberikan dorongan kepada inisiatif produsen guna memperluas dan memperbesar produksi mereka;

b) Untuk meratakan akumulasi modal dalam pembangunan secara keseluruhan, dan

c) Untuk mendapat kepastian supaya perusahaan-perusahaan Negara merupakan sumber terpenting dalam mengumpulkan modal guna pertumbuhan selanjutnya.

28. Dalam memperhatikan prinsip-prinsip ekonomi harus disadari selanjutnya bahwa Indonesia terdiri dari ribuan pulau, sehingga kita harus mementingkan penyelenggaraan lalu lintas barang antar pulau dan kita harus berdagang dengan dunia luar guna pembangunan dan penghidupan sehari-hari. Berhubung dengan itu maka kita harus memperhatikan perhubungan, baik dalam satu pulau maupun antar pulau. Karena itu, maka soal perhubungan menempati fungsi ekonomis yang maha penting. Selama ini belum diatur secara rapi, maka hasi usaha-usaha kita tidak akan memuaskan.

29. Setelah menguraikan strategi dasar ekonomi Indonesia, saya sekarang akan memberi keterangan mengenai kebijaksanaan jangka pendek yang hendak ditempuh oleh Pemerintah.

30. Dalam Amanat saya pada tanggal 17 Agustus 1962 yang berjudul “Tahun Kemenangan” telah saya tandaskan, bahwa pada dewasa ini harus diutamakan penyelesaian pasal 1 dari Tri-program Pemerintah, yaitu program sandang-pangan.

Untuk menanggulangi kesulitan-kesulitan ekonomi keuangan sekarang maka titik berat politik-ekonomi jangka pendek harus diletakkan pada soal sandang-pangan itu.

Di dalam kebijaksanaan jangka pendek ini, soal memenuhi keperluan pangan harus mendapat prioritas utama, karena rakyat yang diharuskan ikut serta di dalam gerakan produksi sehebat-hebatnya itu, harus ada jaminan pangan, khususnya “beras”.

Buat jaminan itu Pemerintah perlu mempunyai dan menguasai persediaan berasa yang cukup, yang berarti bahwa Pemerintah harus mempunyai dan menguasai “iron stock” beras.

Berhubung dengan itu kebijaksanaan jangka pendek harus berpangkap pada:

a) Penyelesaian soal sandang-pangan sampai pada tingkat yang layak;

b) Menyempurnakan aparat produksi yang ada, untuk mempertahankan dan mempertinggi tingkat produksi masa sekarang ini.

Pernyelesaian kedua hal ini sudah dapat dilakukan dengan kekuatan masyarakat yang telah ada pada kita, jika terjamin:

a) Adanya persediaan beras yang cukup;

b) Adanya persediaan bahan baku/penolong dan spare parts yang cukup. Maka dari itu mengenai “iron stock” beras dan persediaan bahan baku/penolong serta spare parts dalam 2 (dua) tahun harus diberi prioritas utama.

Semua kegiatan harus dikonsentrasikan pada kedua usaha tersebut, sehingga usaha-usaha itu mempengaruhi bidang-bidang dan tindakan-tindakan lainnya.

Pembiayaan untuk kedua usaha itu dicapai:

a) Dengan kekuatan sendiri;

b) Bila mana itu tidak mencukupi, maka barulah dicarikan kredit-kredit luar negeri dengan syarat-syarat sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam Ketetapan M.P.R.S. no II tahun 1960.

Di samping mengadakan jaminan pangan itu, maka alat-alat produksi, yang sudah kita miliki, harus mendapat jaminan bahan-bahan baku dan penolong serta spare parts, supaya dapat memperbesar daya produksinya, sehingga dengan demikian di dalam waktu jangka pendek itu dapat dijamin bertambahnya peredaran barang di dalam masyarakata sebagai imbangan dari pada beredarnya uang.

Paralel dengan penyediaan “iron stock” beras tersebut, maka dalam jangka waktu yang bersamaan (± 2 tahun), harus digerakkan penambahan produksi bahan makanan (beras, jagung, dan sebagainya), secara besar-besaran dengan jalan:

a) Mengekstensifkan pertanian dengan menambah areal dan transmigrasi.

b) Mengintensifkan pertanian dengan mekanisasi dan memperbaiki cara-cara bercocok tanam.

c) Mempergunakan Civic-missions Angkat Bersenjata.

d) Menyempurnakan penyelenggaraan Landreform, agar dapat diselesaikan pada waktunya sebagaimana ditetapkan oleh M.P.R.S.

e) Menjamin supaya proyek-proyek yang berhubungan langsung dengan usaha mempertinggi produksi pangan (seperti proyek Jatiluhur dan proyek-proyek pabrik pupuk) selesai pada waktu yang direncanakan.

f) Mengurangi sejauh mungkin impor bahan-bahan lux.

Front Nasional harus segera melaksanakan social support-nya dan social control-nya untuk menyukseskan politik-ekonomi jangka pendek ini dengan pengertian bahwa Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah membuka kesempatan seluas-luasnya untuk itu.

Selanjutnya transportasi dan komunikasi, sebagai urat nadi perekonomian umumnya, khususnya peredaran barang, harus diperbaiki dan dipelihara dengan baik, guna melancarkan distribusi.

Ekspor dan impor dalam masa kebijaksanaan jangka pendek tersebut di atas, harus diselnggarakan sesuai dengan Ketetapan M.P.R.S No. II tahun 1960 pasal 6 ayat 3. Dalam melaksanakan ketentuan ini Presiden/Mandataris M.P.R.S., dapat mengambil tindakan-tindakan pengamanan untuk menjamin berhasilnya garis politik ekonomi ini untuk menguasai dan menyelenggarak semua impor dengan mempergunakan pengalaman dan keahlian pengusaha-pengusaha swasta.

Buat sementara untuk menjamin kelancaran ekspor dalam jangka pendek ini, perlu para eksportir diberi jaminan incentive yang menarik. Dengan mengingat pengalaman pada tahun-tahun terakhir ini, maka dirasa perlu mengadakan dekonsentrasi dalam pengurusan administrasi impor dan ekspor dari instansi-instansi pada tingkat pusat kepada instansi-instansi pada tingkat daerah, segala sesuatu sesuai dengan politik dan ekonomi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Produksi sandang menurut kebijaksanaan ekonomi jangka pendek tersebut di atas harus dititikberatkan kepada produksi di dalam negeri lebih dulu dalam waktu ± 2 tahun, dengan menjamin bahan-bahan baku pertemuan dan merasionalisasi bahan-bahan baku tersebut serta menjamin arus bahan-bahan baku dan spare parts, untuk menghemat devisa maka impor tekstil jadi harus dibatasi.

Dalam rehabilitasi alat-alat produksi pada umumnya, maka rehabilitasi dan pengurusan penggilingan beras harus mendapat perhatian yang khusus.

Dalam rangka menaikkan produksi, maka penyempurnaan manajemen perusahaan-perusahaan Negara diarahkan kepada keadaan yang memungkinkan perusahaan-perusahaan Negara itu bergerak dengan bebas (otonomi) dalam garis-garis kebijaksanaan Menteri-menteri yang bersangkutan dengan disertai sistem kontrol yang efektif.

Kepada perusahaan-perusahaan (dagang) Negara diberikan insentif berupa jasa produksi, bonus, dan sebagainya untuk efisiensi, segala sesuatu menurut ukuran yang obyektif, misalnya untuk kecepatan “omset” dan kecilnya jumlah kredit Bank yang digunakan, dengan menyempurnakan cara-caranya yang berlaku hingga sekarang denga mengadakan retooling.

Untuk efisiensi dan peningkatan produksi selanjutnya perlu diadakan sistem kompetisi prestasi antara perusahaan-perusahaan (dagang) Negara, antara bagian-bagian dalam perusahaan dan antara para pekerja, dalam suatu rencana produksi.

31. Berhubung dengan uraian saya tadi maka penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara harus diadakan pada kebijaksanaan ekonomi jangka pendek ini, di samping mengusahakan keseimbangan antara penerimaan dan pengeluaran Negara dengan menaikkan penghasilan Negara, yang harus dicapai dengan menggali sumber-sumber baru serta mengintensifkan penggalian sumber-sumber lama, dan dengan tidak menambah beban rakyat banyak. Dengan demikian maka dasar pokok pemikiran dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ialah bahwa Anggaran Negara pun harus merupakan alat untuk menyukseskan kebijaksanaan Pemerintah di bidang ekonomi tersebut tadi.

Itulah sebabnya bahwa penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang sekarang ini harus disesuaikan dengan politik ekonomi jangka pendek seperti sudah saya uraikan.

Berhubung dengan itu maka penyampaian Rancangan Undang-undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 1963 kepada D.P.R.-G.R. ditunda untuk memberikan kelonggaran kepada Pemerintah guna mengadakan peninjauan kembali, dengan catatan bahwa penyusunan Anggaran Negara itu ditujukan untuk menjamin terlaksananya kebijaksanaan jangka pendek ini dan pelaksanaannya Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana.

Dalam pada itu untuk menjaga ketertiban di dalam pengeluaran uang Negara, maka Pemerintah dengan bantuan Panitia Anggaran D.P.R.-G.R. menyusun pedoman-pedoman tertentu yang mengikat untuk penertiban tersebut. Sebagaimana telah diumumkan pada tanggal 13 Maret yang baru lalu maka Pemerintah telah menegaskan bahwa untuk menanggulangi kesulitan-kesulitan ekonomi sekarang tidak akan diambil tindakan-tindakan moneter yang drastis, seperti umpamanya devaluasi, pengguntingan uang, pengeluaran uang nilai baru, dan sebagainya, karena mengadakan tindakan-tindakan seperti itu pada waktu ini, di dalam keadaan seperti sekarang, akan menimbulkan kegoncangan dan kegelisahan tidak saja di bidang ekonomi, tetapi juga di kalangan rakyat luas.

Untuk menghadapi kenyataan bahwa nilai uang rupiah sudah merosot dan bahwa ada berbagai ketentuan mengenai nilai uang rupiah terhadap mata uang asing dan keganjilan dalam pembentukan harga, maka perlu diadakan tinjauan kembali terhadap segala Peraturan Negara dan Daerah di bidang ekonomi-keuangan untuk disesuaikan dengan kebijaksanaan jangka pendek tersebut di atas guna keseragaman dalam pembentukan harga, kelancaran produksi, mau pun distribusi.

32. Pembiayaan untuk mensukseskan politik ekonomi jangka pendek tersebut di atas, harus dapat diusahakan sebagai berikut:

a) Dengan kekuatan funds and forces nasional (termasuk domestik) kita sendiri.

b) Bila mana ini tidak mencukupi maka baru dicarikan kredit luar negeri, dengan syarat-syarat sesuai denga ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam Ketetapan M.P.R.S. No. II tahun 1960.

33. Di dalam ikhtiar untuk menyehatkan ekonomi-keuangan sekarang ini, usaha-usaha pembangunan akan terus dilanjutkan berdasarkan Memorandum Pimpinan M.P.R.S. tanggal 5 Januari 1963 dengan menetapkan prioritas-prioritas yang lebih cermat.

Dalam pembangunan itu perlu segera dilaksanakan inset potensi Angkatan Bersenjata guna membantu pembangunan “infra structure” terutama di daerah-daerah terpencil, seperti perbaikan/pembukaan jalan-jalan, jembatan, dan pembukaan tanah tanpa mengurangi kesempatan bekerja bagi buruh dan menghindarkan dua kali untuk sesuatu proyek.

34. Agar tercapai kegotongroyongan nasional berporoskan Nasakom untuk menanggulangi kesulitan-kesulitan ekonomi, maka perlu diadakan pengintegrasian antara Pemerintah dan Rakyat yang terorganisasi, dalam bidang administratif mau eksekutif, di pusat mau pun di daerah-daerah, begitu pula antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah-pemerintah Daerah dengan badan-badang legislatif.

Pengintegrasian tersebut harus pula dicapai dengan melaksanakan Panca Program Front Nasional dalam rangka penyelesaian Tri-program Kabinet Kerja.

Pengintegrasian seperti yang dimaksudkan selanjutnya dapat dicapai dengan mengintensifkan retooling di segala bidang dan dari Pusat sampai ke Daerah-daerah, menurut persyaratan yang lebih sempurna yang ditentukan lebih dulu, di bawah pimpinan saya sendiri.

Untuk melaksanakan kebijaksanaan jangka pendek ini, harus segera dimulai dengan segala keberanian untuk merombak struktur dan kebiasaan yang hingga kini merupakan hambatan-hambatan, sambil meratakan dan mengamalkan indoktrinasi di bidang pembangunan mental nasional. Berhubung dengan uraian saya tadi, maka Pemerintah selanjutnya akan mengambil tindakan-tindakan sebagai berikut:

P e r t a m a:

Akan diusahakan perbaikan/penyempurnaan organisasi dan manajemen Perusahaan Negara, dan diadakan penegasan tentang tugas-tugas Dewan Perusahaan sebagai alat social support dan social control.

Untuk dapat mencapai maksdu dan pengerahan funds and forces, maka berbagai macam organisasi pengusaha swasta akan ditertibkan oleh Pemerintah.

Badan Musyawarah Nasional Swasta yang representatif perlu segera dibentuk, diharapkan supaya badan ini antara lain dapat menggerakkan modal dalam masyarakat dan “domestic capital” kepunyaan bangsa asing untuk pembangunan (yang terakhir ini tidak diberikan fasilitas memindahkan keuntungan ke luar negeri).

K e d u a:

Perlu meninjau kembali dan di mana perlu mengubah berbagai peraturan, proses, serta prosedur administratif yang kompleks untuk dapat mencapai efisiensi, menghindarkan pemborosan dan doublures.

K e t i g a:

Perlu terus-menerus berikhtiar untuk mencapai perbaikan dan penyempurnaan pada Lembaga-lembaga Keuangan, seperti aparatur fiskal, perbankan, khususnya Bank-bank Pembangunan Daerah dan Swasta.

K e e m p a t:

Usaha penyempurnaan labour forces harus terus-menerus dilakukan dengan menyempurnakan statistics, technical, dan mangerial skill, serta berbagai macam job-training.

K e l i m a:

Perlu diperhatikan, bahwa di dalam bidang-bidang operasional diperlukan koordinasi yang baik untuk mengkonsentrasikan segala usaha dan pikiran dalam menaikkan kegiatan ekonomi dan keuangan.

Dalam hubungan ini Komando Operasi Ekonomi harus tetap ada.

Karena prosedur, proses, dan administrasi yang bertalian dengan ekspor dan impor ternyata sangat kompleks, maka kepada Komando Operasi Ekonomi akan diberikan tugas untuk segera mengadakan penelitian dan tindakan-tindakan guna mencapai perbaikan/penyederhanaan prosedur-prosedur yang bersangkutan.

Komando Operasi Ekonomi harus memberikan jasa-jasa baiknya kepada Badan Pemeriksa Keuangan di dalam melakukan tugas di Pusat mau pun di Daerah-daerah, agar suapa pejabat-pejabat Badan Pemeriksa Keuangan dapat melakukan tugasnya dengan leluasa, tanpa halangan dari setiap aparatur Negara sipil maupun militer yang keuangannya akan diperiksa.

Organisasi Badan Pemeriksa Keuangan akan diperbaiki, sedang keperluannya akan tenaga-tenaga ahli dan alat-alat akan dipenuhi.

Selanjutnya Komando Operasi Ekonomi akan diberi tugas untuk mengadakan research pada Perusahaan-perusahaan Negera dan Lembaga-lembaga Negara lainnya untuk kepentingan menambah efisiensi.

Saudara-saudara sekalian,

Demikianlah kebijaksanaan ekonomi jangka pendek yang segera akan ditempul oleh Pemerintah.

Jakarta, 28 Maret 1963

Presiden Republik Indonesia,

Tertanda

SUKARNO.

Dipublikasi di Tulisan Menarik | Meninggalkan komentar

Jika Amerika Menjalankan Komunisme Leon Trotsky (1935)

Jika Amerika menjadi komunis sebagai akibat dari kesulitan-kesulitan dan persoalan-persoalan yang tidak dapat diselesaikan oleh rezim sosial kapitalis, masyarakat Amerika akan menemukan bahwa komunisme, jauh dari sebuah sistem tirani birokratik dan pengawasan individual yang tak tertahan, akan membawa kebebasan individual yang lebih besar dan kemakmuran umum.

Pada saat ini kebanyakan orang Amerika memandang komunisme hanya berdasarkan pengalaman di Uni Soviet. Mereka takut kalau-kalau sistem soviet di Amerika juga akan membuahkan hasil yang sama seperti yang terjadi di masyarakat yang terbelakang secara budaya di Uni Soviet itu. Mereka takut kalau-kalau komunisme akan berusaha untuk menempatkan mereka di tempat tidur procustes, dan mereka menunjukkan pada si konservatif bangsa-bangsa keturunan Inggeris sebagai sebuah rintangan yang tidak dapat ditembus bahkan untuk sebuah reformasi yang diinginkan. Mereka berpendapat bahwa Inggris Raya dan Jepang akan melakukan intervensi militer terhadap rakyat Amerika (jika jadi komunis). Mereka merasa ngeri kalau-kalau warga-warga Amerika akan diperintah dalam kebiasaan mereka berdandan dan berdiet, dipaksa untuk hidup dalam antrian ransum kelaparan, dipaksa untuk membaca propaganda tiruan resmi di koran-koran, dipaksa untuk megiyakan begitu saja keputusan-keputusan yang diambil tanpa partisipasi aktif mereka, atau diwajibkan untuk menahan pikiran mereka untuk diri mereka sendiri dan dengan keras berteriak memuji pemimpin soviet di depan umum, karena takut akan penjara atau pembuangan.

Mereka takut akan inflasi moneter dan tirani birokratik yang tak tertahan dalam mengusahakan kebutuhan hidup mereka. Mereka takut akan tidak berjiwanya seni dan ilmu pengetahuan, sebagaimana baiknya kehidupan keseharian mereka. Mereka takut bahwa seluruh spontanitas politik dan kemerdekaan pers akan dihancurkan oleh kediktatoran birokrasi yang maha kuat. Dan mereka merasa ngeri dengan pemikiran tentang pemaksaan untuk masuk kedalam filosofi dan disiplin sosial serta kefasihan Marxisme yang tidak mereka pahami. Pendek kata, mereka takut kalau-kalau rakyat Amerika akan menghayati kondisi yang sama seperti konon menjadi nasib Rusia sendiri.

Padahal, sistem soviet di Amerika akan jauh berbeda dengan pemerintahan Soviet Rusia sebagaimana juga presiden Roosevelt jauh berbeda dengan kekaisaran Rusia Tsar Nikolas II. Komunisme memang hanya dapat hadir di Amerika melalui revolusi, sebaimana halnya kemerdekaan dan demokrasi di Amerika yang juga hasil revolusi. Temperamen Amerika sangat energik dan kasar, sehingga warga-warga Amerika pasti akan menjungkirbalikkan masyarakat mereka sebelum komunisme benar-benar mapan. Orang-orang Amerika lebih merupakan penggemar dan olahragawan daripada ahli spesialis atau negarawan, jadi agak bertentangan dengan tradisi Amerika kalau kita melakukan perubahan besar tanpa saling berhantam dulu.

Namun revolusi komunis Amerika akan berdampak sangat kecil dibandingkan dengan revolusi Bolshevik di Rusia, dilihat dalam konteks kekayaan dan populasi Amerika. Hal itu disebabkan karena dalam sebuah perang sipil revolusioner, yang akan menjadi pejuang bukanlah orang dari golongan elit — kaum 5-10% yang memiliki 90% dari kekayaan. Golongan kecil ini harus merekrut pejuang kontra-revolusioner dari lapisan bawah kelas menengah. Dan unsur-unsur itu bisa juga ditarik untuk mendukung pihak revolusioner.

Semua orang yang berada di bawah level itu telah siap secara ekonomi untuk komunisme. Depresi telah menyiksa kelas buruh Amerika dan memberikan pukulan menghancurkan pada para petani (yang sudah sebelum depresi terluka oleh kemunduran bidang pertanian salama dekade pasca perang). Tidak ada alasan untuk golongan-golongan itu melakukan perlawanan yang teguh pada revolusi; mereka tidak akan merugi, asal saja para pemimpin revolusioner mengambil sikap yang bijaksana dan moderat terhadap mereka.

Siapa lagi yang akan melawan komunisme? Segelintir jutawan dan multijutawan? Kaum Mellon, Morgan, Ford dan Rockefeller? Perlawan mereka akan segera berhenti saat mereka tidak lagi menemukan orang lain yang mau berjuang untuk mereka.

Pemerintahan Soviet Amerika akan mengambil-alih posisi-posisi penting dalam sistem bisnis kalian, bank-bank, industri-industri kunci serta sistem komunikasi dan transportasi. Kemudian pemerintah itu akan memberikan sebuah kesempatan dalam waktu yang cukup lama bagi para petani, pedagang kecil dan kelompok bisnis kecil kalian, untuk memikirkan bagaimana industri-industri yang telah dinasionalisasi sedang berjalan. Disinilah tempat dimana Pemerintahan Soviet Amerika dapat menghasilkan mukjizat yang sebenarnya. Sistem “teknokrasi” hanya dapat betul-betul terwujudkan dibawah komunisme, di saat hak-hak pemilikan pribadi dan keuntungan pribadi dihilangkan dari sistem industri. Proposal-proposal yang paling berani dari komisi Hoover tentang pengaturan dan rasionalisasi ekonomi akan kelihatan kekanak-kanakan jika dibandingkan dengan kemungkinan-kemungkinan baru yang dikemukakan oleh komunisme Amerika. Industri nasional akan diorganisir menurut model alat-alat pengantar di dalam sistem produksi modern di pabrik-pabrik otomotif. Perencanaan ilmiah dapat diambil dari pabrik-pabrik individu untuk diterapkan dalam sistem ekonomi secara keseluruhan. Hasilnya akan sangat menakjubkan.

Biaya produksi akan dikurangi hingga 20% (atau kurang) dari yang ada saat ini. Hal ini dalam gilirannya, akan sangat cepat meningkatkan daya beli para petani. Pemerintahan Soviet memang akan mewujudkan perusahaan pertanian raksasa, sebagai “sekolah” untuk kolektivisasi sukarela. Para petani dengan mudah akan dapat menghitung yang mana yang lebih menguntungkan bagi mereka secara pribadi: tetap terisolasi atau bergabung dalam rantai usaha bersama.

Metode yang sama akan digunakan untuk menarik bisnis kecil untuk bergabung dalam organisasi industri nasional. Dengan kontrol rakyat bagi bahan-bahan mentah, kredit serta quota-quota permintaan, industri-industri sekunder ini akan dapat dipertahankan dengan menjadwal kembali hutang-hutangnya sampai mereka akan bergabung secara berangsur-angsur tanpa paksaan dan tekanan dalam sistem industri yang telah menjadi sosialis. Tanpa paksaan! Pemerintahan Soviet Amerika tidak akan perlu mengambil jalan yang drastis seperti kami orang Rusia. Di Amerika, melalui periklanan dan publikasi yang ilmiah, kalian memiliki cara untuk mendapatkan dukungan dari kelas menengah yang tak terjangkau oleh para soviet Rusia yang terbelakang, dimana sebagian besar terdiri dari kaum tani yang miskin dan butahuruf. Selain perlengkapan teknis dan kemakmuran kalian, hal ini merupakan aset yang paling besar bagi revolusi komunis yang akan tiba. Revolusi kalian akan berjalan jauh lebih lancar dibandingkan dengan kami; tidak akan memboroskan tenaga dan sumber daya dalam konflik sosial yang sekunder setelah masalah-masalah pokok sudah diselesaikan, sehingga kalian akan melangkah maju dengan jauh lebih cepat.

Bahkan intensitas sentimen dan ketaatan beragama di Amerika tidak akan merupakankan sebuah hambatan bagi revolusi. Dari sudut pandangan soviet, tidak ada rem psikologis yang mampu menahan tekanan krisis sosial. Hal ini telah dibuktikan lebih dari sekali di dalam sejarah. Disamping itu, jangan sampai dilupakan bahwa Kitab Injil sendiripun memuat “aphorisme” yang sangat meledak-ledak.

Untuk menangani para lawan revolusi yang berjumlah kecil, kita bisa mengandalkan kecerdasan warga-warga Amerika. Boleh jadi kalian akan mengirim para jutawan yang belum kapok kepada sebuah pulau indah, untuk bermukim secara gratis seumur hidup, dimana mereka dapat berbuat apa saja sekehendak mereka. Anda dapat melakukan hal ini dengan aman, karena tidak perlu menkhawatirkan intervensi dari luar. Jepang, Inggris Raya dan negara pilar lainnya yang pernah melakukan intervensi di Rusia, akan harus pasrah di hadapan kekuatan masyarakat komunis Amerika. Padahal, kemenangan komunis di Amerika — benteng kapitalisme — akan menyebabkan komunisme menyebar ke negara lain. Jepang kemungkinan akan bergabung dalam barisan komunis, bahkan sebelum Amerika. Begitu juga dengan Inggris Raya.

Bagaimanapun juga, adalah sebuah ide gila untuk mengirimkan armada Sang Raja Britannia melawan Pemerintahan Soviet Amerika, bahkan sebagai serangan kilat di daerah selatan benua itu, yang bersifat lebih konservatif. Serangan semacam itu akan sia-sia, dan tidak bisa melampaui sebuah petualangan picisan. Dalam kurun waktu beberapa minggu atau bulan setelah berdirinya soviet-soviet Amerika, persatuan negara-negara seluruh Belahan Bumi Barat (Pan-Americanism) akan terrealisasi.

Pemerintah-pemerintah di Amerika Latin akan bergabung dalam federasi anda seperti layaknya magnet yang berhadapan dengan besi. Begitu juga dengan Kanada. Gerakan-gerakan rakyat di negara-negara ini akan menjadi begitu kuat sampai proses persatuan bisa dijalankan dalam waktu yang singkat, dan dengan biaya yang murah. Saya siap untuk bertaruh, bahwa saat perayaan pertama berdirinya Pemerintahan Soviet Amerika akan ditemukan bahwa Belahan Bumi Barat akan bertransformasi menjadi sebuah federasi Soviet Amerika bagian Utara, Amerika Tengah dan Selatan dengan ibukota di Panama. Maka untuk pertama kalinya Doktrin Monroe akan berarti secara komplit dan positif di dunia, sekalipun tidak seperti yang diharapkan oleh penulisnya.

Meski kaum konservatif yang kuno dan kolot suka mengeluh, Presiden Roosevelt tidak sedang menyiapkan transformasi Soviet. Program-program National Recovery Administration (NRA) memiliki tujuan, bukan untuk menghancurkan, tapi justeru untuk memperkuat fondasi-fondasi kapitalisme Amerika dengan mengatasi kesulitan-kesulitan bisnis. Bukan Blue Eagle (Rajawali Biru – Lambang NRA) yang akan membawa komunisme ke Amerika, melainkan kesulitan-kesulitan yang tidak dapat diatasi oleh si Blue Eagle itu.

Profesor-profesor radikal dan cerdas yang menasihati Presiden bukanlah organg revolusioner; hanya orang konservatif yang takut. Sang President itu sama sekali tidak menyukai “sistem-sistem”. Sedangkan sebuah pemerintahan soviet merupakan sebuah sistem raksasa.

Orang-orang biasa juga tidak menyukai sistem-sistem umum. Sehingga menjadi tugas para negarawan komunis untuk menciptakan sebuah sistem yang dapat mengantarkan orang-orang biasa hal-hal konkret yang mereka butuhkan dan inginkan; makanannya, rokok, hiburan, kebebasan untuk memilih dasi yang mereka inginkan, rumahnya dan mobilnya. Di Amerika Soviet, hal-hal ini dapat disediakan dengan mudah.

Banyak orang Amerika yang telah salah pengertian melihat kenyataan yang ada di USSR, dimana kami harus membangun seluruh industri dasar baru dari keterpurukannya. Hal tersebut tidak mungkin terjadi di Amerika, dimana areal pertanian kalian dan produksi industri sudah harus dikurangi [karena depresi ekonomi]. Sebenarnya, peralatan yang berteknologi tinggi telah dilumpuhkan oleh krisis dan benar-benar perlu dipergunakan kembali. Peningkatan konsumsi rakyat dapat menjadi titik awal kebangkitan ekonomi kalian.

Kalian telah jauh lebih siap untuk melakukan hal ini dibandingkan negara lain. Tidak ada tempat lain di mana penelitian sudah dilakukan mengenai pencapaian pasar lokal dengan intensitas seperti di Amerika. Hal itu telah dilakukan oleh bank-bank, bursa saham, bisnis perseorangan, para saudagar dan pedagang keliling serta para petani, sebagai praktek bisnis mereka. Pemerintahan Soviet hanya perlu melarang semua rahasia dagang, dan akan menggabungkan seluruh pencapaian setiap riset (yang dulu dilakukan untuk keuntungan perseorangan) menjadi sebuah sistem ilmiah bagi perencanaan ekonomi. Dalam hal ini pemerintah kalian akan dibantu oleh adanya banyak konsumen yang kritis dan berkebudayaan. Dengan menyatukan seluruh industri kunci yang telah dinasionalisasi, bisnis pribadi dan kooperasi demokratik bagi para konsumen, kalian akan dengan cepat membangun sebuah sistem yang sangat fleksibel untuk melayani kebutuhan-kebutuhan rakyat.

Sistem ini tidak akan dimotori oleh birokrasi atau polisi melainkan oleh uang. “Dolar Yang Mahakuasa” akan berfungsi sebagai bagian yang sangat prinsipil dalam berjalannya sistem Soviet baru. Adalah kesalahan besar untuk mencoba menggabungkan sebuah ekonomi terencana dengan mata uang yang dipatok. Mata uang harus berfungsi sebagai pengatur untuk menghitung keberhasilan atau kegagalan perencanaan ekonomi.

Profesor-profesor kalian yang radikal benar-benar keliru dalam keyakinan mereka untuk mengatur uang. Ini adalah sebuah ide akademis yang bisa saja menenggelamkan sistem produksi dan distribusi kalian. Hal ini adalah pelajaran berharga yang dapat diambil dari USSR, dimana sebuah keharusan yang pahit telah dikonversikan menjadi dogma resmi di bidang moneter. Disana, tidak hadirnya sebuah mata uang stabil berdasarkan emas adalah salah satu penyebab utama dari kesulitan dan bencana ekonomi kami. Adalah tidak mungkin untuk mengatur gaji, harga dan kualitas tanpa sebuah sistem moneter yang sehat. Sebuah ketidakstabilan rubel didalam sistem Soviet kelihatan seperti mempunyai bentuk yang berganti-ganti pada sebuah ban berjalan di pabrik-pabrik. Hal itu tidak akan berfungsi.

Hanya pada saat sosialisme berhasil mengganti uang dengan kontrol administratif, kita bisa meninggalkan sebuah mata uang stabil berdasarkan emas. Kemudian uang akan menjadi sobekan kertas biasa, seperti tiket kereta atau karcis bioskop. Makin sosialisme berkembang maju, makin sobekan-sobekan ini juga akan menghilang. Dan kontrol terhadap konsumsi individu – apakah itu dengan uang atau dengan administrasi — tidak lagi dibutuhkan karena ada lebih dari cukup semua hal untuk semua orang.

Saat itu belum datang, walaupun Amerika pasti akan mencapai hal tersebut sebelum negara-negara lain. Sebelum itu, satu-satunya jalan untuk mencapai sebuah perkembangan semacam ini adalah dengan menjaga seperangkat regulasi efektif untuk sistem perekonomian. Padahal, selama tahun-tahun pertama dari ekonomi terencana, sebuah mata uang yang stabil bahkan lebih dibutuhkan dibandingkan dalam kapitalisme gaya lama. Sang Profesor yang mengatur unit moneter dengan tujuan untuk mengatur keseluruhan sistem bisnis, kelihatan seperti seseorang yang mencoba untuk menggerakkan kedua kakinya dari tanah dalam waktu yang bersamaan.

Pemerintahan Soviet Amerika akan memiliki banyak pemasukan dari emas, cukup besar untuk menstabilkan dolar — sebuah aset tak ternilai. Di Rusia, kami telah memperluas peralatan industri kami hampir 20 hingga 30% pertahun; tapi -disebabkan oleh rubel yang lemah — kami belum bisa mendistribusikan peningkatan ini secara efektif. Sebagian dari hal ini disebabkan oleh karena kami memperbolehkan birokrasi kami untuk menentukan sistem moneter secara sepihak. Kalian akan melepaskan diri dari kesalahan ini. Sebagai hasilnya, kalian akan melebihi kami dalam peningkatan produksi dan distribusi, yang akan menyebabkan kemajuan yang pesat dalam kenyamanan dan kesejahteraan rakyat.

Dalam semua hal ini, kalian tidak perlu meniru standarisasi produksi yang diperlukan bagi massa konsumen kami yang sengsara. Kami telah mengambil alih dari kekaisaran Rusia sebuah warisan kemelaratan, sebuah kaum tani yang secara budaya terbelakang dengan standar kehidupan yang rendah. Kami harus membangun pabrik-pabrik dan dam-dam atas biaya dari para konsumen. Kami memiliki inflasi moneter yang berkelanjutan dan sebuah birokrasi yang mengerikan.

Pemerintahan Soviet Amerika tidak harus meniru metode birokrasi kami. Di Rusia, tidak mencukupinya persediaan kebutuhan pokok telah menyebabkan kami semua ramai-ramai bersaing untuk mendapatkan selembar roti atau sehelai kain. Dalam kemelut ini, birokrasi tampil sebagai konsiliator, sebagai seperangkat pengadilan yang sangat kuat. Kalian, dilain pihak, sudah lebih sejahtera sehingga tidak akan mengalami kesulitan dalam mensuplai seluruh rakyat dengan semua kebutuhan hidup. Lebih jauh, kebutuhan, cita rasa dan kebiasaan tidak akan pernah mengijinkan birokrasi membagi pendapatan nasional. Sebaliknya, saat kalian mengorganisir masyarakat untuk menghasilkan kebutuhan hidup manusia, dan bukan untuk profit swasta, seluruh populasi kalian akan mengelompokkan dirinya dalam kelompok baru yang saling interaksi dan mencegah munculnya sebuah birokrasi yang angkuh.

Maka kalian dapat menghindari tumbuh dan berkembangnya birokratisme dengan praktek-praktek Soviet, yaitu praktek-praktek demokrasi — tipe pemerintahan yang paling fleksibel yang sudah berkembang. Organisasi pemerintahan ala Soviet tidak dapat mencapai kemujizatan, tetapi harus merefleksikan kehendak rakyat secara langsung. Di negeri kami, soviet-soviet telah dibirokratiskan, sebagai hasil monopoli sebuah partai tunggal, yang kemudian berkembang menjadi sebuah birokrasi. Situasi ini dihasilkan oleh kesulitan-kesulitan kepeloporan sosialis di sebuah negara yang miskin dan terbelakang.

Soviet-soviet Amerika akan bersemangat dan kuat, tanpa keperluan atau kesempatan untuk menerapkan kebijakan-kebijakan seperti yang dilakukan di Rusia. Para kapitalis yang belum juga kapok, tentu saja menemukan tiadanya tempat untuk mereka dalam orde yang baru ini. Sulit untuk membayangkan si Henry Ford sebagai pimpinan soviet di kota Detroit.

Meskipun begitu, perjuangan-perjuangan yang luas antara kepentingan-kepentingan, kelompok-kelompok dan ide-ide tidak hanya sekedar dapat dibayangkan — bahkan hal ini tidak dapat dielakan. Rencana pembangungan satu tahun, lima tahun dan sepuluh tahun; perencanaan pendidikan nasional; konstruksi jalur-jalur baru untuk angkutan umum; transformasi pertanian; program peningkatan teknologi dan peralatan kultural untuk Amerika Latin; sebuah program untuk telekomunikasi melalui stratosfeer; genetika — semua hal ini akan memunculkan kontroversi, pergolakan yang ketat dalam pemilihan, serta debat yang bergairah di koran-koran dan dalam pertemuan-pertemuan publik.

Pemerintahan Soviet Amerika tidak akan meniru monopoli pers oleh pejabat-pejabat tinggi soviet Rusia. Walau Pemerintahan Soviet Amerika akan menasionalisasikan seluruh percetakan, pabrik pengolahan kertas dan pengelolaan distribusi, hal ini merupakan sebuah kebijakan yang sama sekali negatif. Kebijakan ini hanya berarti bahwa para pemilik modal swasta tidak lagi boleh menentukan jenis publikasi macam apa yang bisa didirikan, apakah progresif atau reaksioner; puritan atau pornografi. Pemerintahan Soviet Amerika harus menentukan solusi baru untuk persoalan bagaimana kekuatan pers harus difungsikan dalam rezim sosialis. Hal ini barangkali akan berjalan melalui representasi proposional, menurut jumlah suara yang di didapat oleh setiap kelompok dalam pemilihan. Sehingga hak setiap kelompok untuk mempergunakan media pers akan tergantung pada kekuatan numeriknya – dan prinsip yang sama juga akan dipergunakan untuk menentukan kegunaan ruang pertemuan masyarakat, penetapan waktu mengudara dan selanjutnya.

Dengan demikian, pengelolaan dan kebijakan publikasi tidak akan ditentukan oleh kemampuan ekonomi para kapitalis swasta, melainkan oleh ide-ide masing-masing kelompok. Sistem ini mungkin kurang memperhatikan sejumlah kelompok yang masih kecil tapi yang pikirannya penting. Namun itu hanya berarti, bahwa setiap setiap ide baru harus berjuang untuk menarik perhatian masyarakat — seperti selalu terjadi dalam sejarah sampai kini.

Pemerintahan Soviet Amerika yang kaya dapat menyisakan dana yang cukup besar untuk riset, penemuan dan eksperimen di setiap lapangan. Kalian tidak akan lalai dengan kaum arsitek yang berani; para pemahat dan penyair non konvensional; atau para filsuf orisinal. Dalam kenyataannya, Amerika Soviet di masa depan akan membimbing negeri-negeri Eropa di dalam setiap lapangan dimana Eropa sampai saat ini masih menjadi guru. Orang-orang Eropa kurang memahami tentang potensi teknologi untuk mempengaruhi takdir manusia, dan mereka telah sok memperolok-olokkan serta memandang rendah “cara-cara Amerika”, terutama sejak terjadinya krisis ekonomi. Namun “cara Amerika” menandai garis perbatasan yang jelas antara zaman tengah dan dunia modern.

Sampai saat ini penaklukan alam Amerika telah terjadi dengan sangat kasar dan dengan kegairahan, sehingga warga-warga Amerika kekurangan waktu untuk memodernisasikan filsafat-filsafat atau mengembangkan bentuk-bentuk seni sendiri. Oleh karena itu kalian bermusuhan dengan doktrin-doktrin Hegel, Marx dan Darwin. Pembakaran karya-karya Darwin oleh gereja Baptis Tennesse hanya sebuah refleksi yang kaku dari ketidaksukaan orang-orang Amerika terhadap doktrin-doktrin evolusi. Mentalitas ini tidak hanya menonjol di mimbar-mimbar gereja. Hal ini masih menjadi salah satu bagian dari penampakan umum mentalitas kalian. Orang-orang ateis kalian seperti juga para Quakers telah mengambil sikap rasionalis yang tegas. Dan filsafat rasionalis itu sendiri dilemahkan oleh empirisme dan moralisme, sehingga sama sekali tidak menonjolkan vitalitas kelaliman yang menyifati kaum rasionalis Eropa yang besar. Hingga metode filosofis kalianpun bahkan lebih kuno dibandingkan dengan sistem ekonomi dan institusi politik yang kalian miliki.

Sekarang ini, walau sama sekali belum dipersiapkan, kalian harus berhadapan dengan kontradiksi sosial yang berkembang dengan tidak disangka-sangka di setiap masyarakat. Amerika telah menaklukkan lingkungan alam dengan peralatan yang diciptakan oleh para penemu-penemu kalian yang jenius, tetapi kemudian peralatan yang canggih itu hampir menghancurkan masyarakat Amerika itu sendiri. Berlawanan dengan semua harapan dan keinginan, harta kalian yang luar biasa telah menghasilkan sebuah malapetaka yang luar biasa pula. Kalian menjumpai bahwa pembangunan sosial tidak mengikuti formula yang simpel. Oleh sebab itu kalian telah didorong kedalam sekolah dialektis — untuk selama-lamanya.

Tidak mungkin lagi kembali ke cara berpikir dan bertindak seperti yang umum di abad ke-17 dan ke-18. Walau orang-orang bego romantis dari Nazi Jerman bermimpi untuk mengembalikan ras tua dari Hutan Gelap Eropa pada kemurniannya yang asli — atau lebih tepat pada kebusukannya yang asli — kalian bangsa Amerika, setelah mendapatkan pegangan yang kokoh dalam peralatan ekonomi dan budaya kalian, akan mempergunakan metode ilmiah yang terjamin untuk persoalan-persoalan genetika. Dalam abad ini, diluar kancah manusia dari bermacam-macam ras kalian ini, akan muncul keturunan manusia baru – manusia pertama yang layak menyandang nama Manusia.

23 Maret, 1935

Dipublikasi di Ideologi | Meninggalkan komentar

Dibalik Juluran Lidah Einstein

einstein

Mungkin sebagian besar orang sudah tau siapa itu Einstein, ya penemu teori relativitas ini memang seorang ilmuan yang paling tersohor di se antero jagat raya ini bahkan mungkin kalo ada ilmuan dari galaksi lain pun akan kagum dengan sang jenius ini. Posternya sang jenius ini pun banyak yang menyukai, mulai dari orang awam, orang yang bukan saintis pun turut memajang poster Einstein tersebut. Bahkan poster Einstein bisa di sejajarkan dengan poster bintang Hollywood atau grup band papan atas dunia. Banyak poster Einsten, namun yang paling menarik adalah poster Einstein yang sedang menjulurkan lidahnya. Apakah itu rekayasa seorang pelukis atau photografer?

Gambar tersebut bukan lah rekayasa, itu memang foto einstein yang di crop dari foto aslinya bersama istri tercinta dan rekannya Dr. Fank Aydelotte.

Pada 14 Mar 1951 di Princeton pada acara ulang tahun ke 72. Sebenarnya pada saat itu, Albert Einstein dan Aydelotte baru saja pulang dari acara penghargaan Einstein. Meskipun Einstein sudah duduk di kursi mobil, masih saja reporter dan fotografer mengejar dia. Para wartawan berusaha menahan Einstein, dan Einstein berteriak : “Ini cukup. Ini cukup!”. Namun dasar wartawan, tetap saja mengajukan pertanyaan dan para fotografer terus mengambil gambarnya bersama kerabatnya.

Ketika wartawan meminta kesediaan Einstein untuk mengabadikan foto ulang tahunnya, akhirnya iapun menjadi letih dan kesal, lalu ia menjulurkan lidahnya, dengan nada mengejek. Pada saat itu, Arthur Sasse sempat mengabadikan foto Einstein tersebut.

Meskipun demikian, Einstein sangat menyukai foto itu. Ia memotong foto tersebut, sehingga hanya tampak dia sendiri (tanpa memunculkan Aydelotte dan istrinya). Einstein pun memperbanyak foto tersebut dan mengirim ke teman-temannya.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Fakta Tersembunyi di Balik G-30S/PKI

Benarkah Jendral Purn yang berbintang lima H.Muhammad Suharto Presiden ke kedua Republik Indonesia terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI)?, Benarkan Suharto merupakan dalang dari Peristiwa Gerakan 30 September PKI (G.30.S.PKI) tahun 1965 yang menewaskan tujuh jendral yang menjadi korban revolusi, yang kemudian jasadnya dimasukkan kedalam lobang Buaya?
Sampai saat ini fakta sejarah yang menyebutkan bahwa Suharto adalah dalang dari Pemberontakan PKI di Indonesia Tahun 1965, belum cukup untuk mengungkap keterlibatan mantan Komandan Strategi Angkatan darat (Kostrad) itu. Sampai saat ini, setiap memperingati G.30.S.PKI, setiap tanggal 30 Septemeber sepanjang tahun, nama jendral Purn Muhammad Suharto tetap disebut sebut dan dikaitkan dengan peristiwa makar yang dilakukan oleh PKI.
Dan sampai saat ini pula belum ada fakta yang memebenarkan adanya keterlibatan Suharto dalam G.30.S.PKI itu, kalau pun ada, masih sebatas dugaan dan opini baik dari para pelaku sejarah itu, maupun dari bangsa Indonesia. Untuk membuka secara akurat sesuai dengan fakta bahwa Suharto adalah dalang pemberontakan yang dilakukan oleh PKI pada Tahun 1965, belum terlihat adanya ungkapan tersebut, baik oleh kalangan sejarahwan, maupun dari pelaku sejarah yang masih hidup dan terlebih dari para keluarga jendral yang menjadi korban kebiadaban PKI tahun 1965.
Sudah seharusnyalah Peristiwa G.30.S.PKI, yang katanya ada dugaan keterlibatan Suharto sebagai dalam pemberontakan yang dilakukan oleh PKI itu untuk diungkap secara jelas dan transparan. 47 tahun sudah kisah duka Bangsa negeri ini berlalu. Namun untuk membuktikan dugaan keterlibatn Suharto dalam Peristiwa Pemberontakan PKI, yang kemudian dilanjutkan dengan pembantaian ratusan ribu anak negeri ini, yang tewas ditangan para algojo algojo yang diciptakan oleh organisasi keagamaan.
Belum tentu dari ratusan ribu nyawa anak negeri ini yang melayang sia sia, adalah sebagai antek anteknya PKI. Dari catatan hitam sejarah pembantaiaan ratusan ribu anak negeri ini, sebahagian besar adalah orang orang yang tidak mengerti tentang PKI dan antek anteknya, Mereka ini tewas merenggang nyawa ditangan saudara saudaranya sendiri.
Kita tidak mentolerir dari apa yang dilakukan oleh Suharto semasa dia menjadi pemimpin dinegeri ini, tapi kita perlu pembuktian dan fakta atas keterlibatan mantan Presiden ke dua negeri ini atas keterlibatannya dalam G.30.SPKI. Kita tidak ingin mempunyai sejarah yang kelam dan salah. Karena kita bukanlah sekumpulan orang yang (Ber) “Jas Merah “ ( Jangan Suka Melupakan Sejarah) dan kita juga tidak menginginkan Sejarah tentang keterlibatan Bapak Pembangunan Indonesia ini dalam Peristiwa G.30.S.PKI, hanya merupakan sejarah yang abu abu.
Sebagai bangsa yang besar yang pandai menghargai jasa jasa pahlawannya, kita ingin pembuktian yang yata atas fakta dan kebenaran keterlibatan Mantan Penguasa tunggal dari Cendana itu. Kita tidak ingin mendengar kata “ Dugaan”, Opini, dan Pradiksi. Generasi Muda negeri ini ingin sebuah pembuktian, buka rekayasa, dan opini.
Perlunya fakta dibalik duka peristiwa G.30.S.PKI ini diungkap secara jelas dan transparan atas dugaan keterlibatan Suharto dalam peristiwa G.30.S.PKI yang menakutkan bangsa negeri ini. Takut dalam tanda pentik “Dituduh sebagai PKI dan Antek anteknya pada saat itu. Bangsa negeri ini pada masa masa ditahun 1965-1966 lebih takut dituduh sebagai PKI dan antek anteknya dari pada dituduh tidak memiliki tuhan. (bangsa negeri ini lebih takut kepada PKI dari pada Tuhannya). Agar permaslahannya menjadi jelas bagi Generasi Muda pada saat ini, dan juga pada saat yang akan datang.
Dan terhadap keluarga Suharto penjelasan sesuai dengan fakta dan kebenaran, atas keterlibatan Suharto dalam perinstiwa G.30.S.PKI ini juga kemungkinan juga mengharapkan hal yang sama. Sebagai keluarga tentu mereka juga menginginkan suatu pembuktian yang riil, bukan rekayasa atas keterlibatan Jend Bintang lima yang telah dipanggil oleh Khalidnya itu. Mereka juga tentu telah merasa muak dengan tuduhan tiduhan yang dilontarkan terhadap Suharto.
Untuk itu kita berharap kepada para pelaku sejarah dan para sejarahwan, dan para elit negeri ini, untuk mengunmgkap fakta dibalik duka atas keterlibatan Mantan Presiden Suharto dalam peristiwa berdarah G.30.S.PKI tahun 1965-1966. Agas persoalan ini tidak menjadi komplik antara pro dan kontra sepanjang masa, dan sepanjang sejarah negeri ini.
sumber: http://polhukam.kompasiana.com/politik/2012/10/05/1/493158/mengungkap-fakta-di-balik-duka-g-30s-pki.html

Dipublikasi di Fakta dibalik. . . | Meninggalkan komentar

Andai Saja Sultan Brunei Jadi Presiden Indonesia

Berbicara masalah kesejahteraan yang diterapkan oleh Sultan Brunei kepada rakyatnya, hati ini menjadi miris dan sedih. Kenapa Brunei yang hanya mempunyai kekayaan alam berupa MINYAK BUMI dan GAS saja ternyata Sultannya mampu menyejahterakan dan memakmurkan rakyatnya. Pokok persoalan bukan karena wilayah Brunei Yang kecil dan populasi penduduk yang sedikit bila dibandingkan Indonesia ditambah hasil Minyak bumi dan Gas Brunei yang melimpah, namun karena “politic will” Sultan Brunei yang berkomitmen dan bervisi untuk kesejahteraan rakyatnya.

Mungkin hanya Sultan Brunei saja Baca lebih lanjut

Dipublikasi di umum | Meninggalkan komentar